Pertemuan
ke
MAKALAH
TAFSIR
“PENDIDIK DALAM PROSES
PENDIDIKAN & SIFAT PENDIDIK DALAM PERSPEKIF AL-QURAN”
Makalah Ini Disusun
Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah
Tafsir
Dosen Pengampu : Moh.Idris
Hasan, Lc, M.A, Ph.D
![]() |
Disusun Oleh Kelompok 4 :
1.
Karomah
2.
Istiqomah
3.
Ifan Andi Priyanto
4.
Imam Haromain
SEMESTER : TARBIYAH/ 6 (Enam)B
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM SUFYAN TSAURI (STAIS) MAJENANG
Jl.KH. Sufyan Tsauri Po
Box I8 Majenang Tlp. (0280) 623562
Cilacap
2013 / 2014
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah
puji syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan
rahmat, taufik dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah
Tafsir yang berjudul ”Pendidik Dalam Proses Pendidikan & Sifat Pendidik
Dalam Perspektif Al-Quran”. Shalawat dan
salam semoga selalu terlimpahkan kepada baginda kita, Nabi Muhammad SAW,
keluarga, dan para sahabatnya yang setia
sampai akhir zaman.
Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Penulis menyampaikan ucapan
terima kasih kepada:
1.
Bapak Moh.Idris Hasan, Lc, M.A, Ph.D pelaku
dosen mata kuliah tafsir yang telah memberikan bimbingan, dorongan dan nasehat
yang baik kepada kami.
2.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada
teman-teman dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas ini.
Penulis menyadari dalam Penyusunan Makalah ini masih terdapat
banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang
membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan pada masa yang akan datang.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para
pembaca pada umumnya.
Majenang, Juli 2014
Penulis
DAFTAR
ISI
Halaman judul........................................................................................................... i
Kata pengantar ........................................................................................................ ii
Daftar isi................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
a.
Latar
Belakang.................................................................................................... 1
b.
Rumusan
Masalah............................................................................................... 1
c. Tujuan dan Manfaat Pembahasan....................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pendidik (Guru) Dalam Proses Pendidikan
a.
Tafsir Qs Al-Baqarah ayat 151...................................................................... 2
Ø
Ayat Dan Terjemah................................................................................. 2
Ø
Isi Kandungan (
makna).......................................................................... 2
Ø
Asbabunnuzul.......................................................................................... 6
b.
Tafsir Qs Al-jumah
Ayat 2 ............................................................................ 6
Ø Ayat Dan Terjemah................................................................................. 6
Ø Isi Kandungan ( makna).......................................................................... 6
Ø Asbabunnuzul.......................................................................................... 8
B. Guru
Harus Bersifat Kasih Sayang Terhadap Murid Dalam Proses Pendidikan
a.
Tafsir al-imran ayat 159.................................................................................. 8
Ø Ayat dan
terjemah.................................................................................. 8
Ø Isi Kandungan
( Makna)......................................................................... 8
Ø Asbabunnuzul......................................................................................... 9
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan........................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 11
BAB II
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Seorang pendidik mempunyai peranan yang sangat
penting dalam proses pendidikan. Pendidik adalah tempat bertanya bagi anak
didiknya ketika mereka tidak memhami suatu permasalahan. Pendidik adalah suri
tauladan utama bagi anak didik dan mempunyai peranan sangat penting dalam
proses pembentukan karakternya. Mengingat begitu pentingnya peran seorang
pendidik dalam proses pendidikan, penulis memandang perlu upaya memahami
kriteria dan tugas seorang pendidik menurut perspektif Al-Quran. Al-Quran
adalah kitab suci yang memberi petunjuk kepada manusia jalan yang terbaik bagi
kehidupan duniawi dan ukhrawi mereka. Al-Quran mengandung pelajaran-pelajaran
penting untuk mengatur segala aspek kehidupan manusia, termasuk pendidikan.
Ayat-ayat Al-Quran yang mengandung pelajaran
tentang pendidikan sangat banyak, salah satunya adalah ayat 151 surat
Al-Baqarah yang menjelaskan tugas dan peran kerasulan yang berarti juga tugas
dan peran seorang pendidik. Makalah ini akan berbicara tentang krteria dan dan
tugas seorang pendidik perspektif QS Al_Baqarah ayat 151 dan QS AL-Jumah ayat 2
dan Sikap Guru yang Harus Bersifat Kasih
Sayang Terhadap Murid QAL-Imran Ayat 159
B.
Rumusan
Masalah
Mahasiswa Diharapkan Mampu
Mengethui Kandungan Makna, Serta Mampu
Memahami Isi Kandungan Tafsir Al-Quran:
1.
QS Al_Baqarah ayat 151
2.
QS AL-Jumah ayat 2 dan
3
3.
QS AL-Imran Ayat 159
C.
Tujuan
dan manfaat Pembahasan
Dengan
adanya rumusan diatas mahasiswa diharapkan mampu Untuk
Mengetahui Surah, Kandungan Makna, Mengetahui Factor-Faktor Yang Mempengaruhi
Pendidik Serta Sifat Pendidik dalam surah QS Al_Baqarah ayat 151, QS AL-Jumah
ayat 2 dan3, dan QS AL-Imran Ayat 159, serta dapat mengaplikasikan makna
kandungan pada tafsir diatas dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Guru
(Pendidik) Dalam Proses Pendidikan
a) Q.S Al-Baqarah Ayat 151( Sapi )
بِسْمِ
اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
Artinya:
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah
mengutus kepadamu Rasul (Muhammad) dari kalangan kamu yang membacakan ayat-ayat
Kami, menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab (Al-Quran) dan
Al-Hikmah (As Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu
ketahui.
Ø
Isi kandungan Q.S
Al-Baqarah Ayat 151
Dilihat dari perspektif ilmu pendidikan, ayat di atas
menjelaskan kriteria dan tugas seorang pendidik[1].
Kriteria seorang pendidik perspektif QS Al Baqarah ayat 151
1.
Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang
anak didiknya dan mampu berkomunikasi secara efektif
dan efisien.
Kriteria
pertama ini tersirat dari kata-kata “ dari kalangan kamu sendiri”, dalam ayat
lain dikatakan “ dengan bahasa kaum mereka”. Seorang Rasul yang berasal dari
kaumnya sendiri, diyakini memiliki pengetahuan yang mendalam tentang kaumnya
dan kemampuan berkomunikasi yang bijak dan efektif. Hal tersebut sangat penting
karena apabila seorang Rasul yang bertugas sebagai pendidik, tidak memiliki
pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang kaumnya, serta tidak mampu
melakukan komunikasi yang bijak dan efektif, maka kemungkinan besar tugas
kerasulannya akan gagal.
Surat Al-Baqarah ayat
151 mengisyaratkan hal tersebut dengan kata-kata “ dari kalangan kamu sendiri”.
Demikian
pula halnya dalam dunia pendidikan, pengetahuan dan pemahaman yang
mendalam seorang pendidik terhadap anak didiknya akan lebih menjamin
tercapainya tujuan pendidikan. Pengetahuan mendalam seorang pendidik tentang
anak didik sangat membantu dalam memilih metode dan materi pendidikan yang
sesuai dengan anak didik. Pemilihan materi dan metode pendidikan yang sesuai
dengan situasi dan kebutuhan peserta didik akan membuat proses pendidikan
berjalan sesuai dengan harapan. Ketika proses pendidikan sudah berjalan sesuai
dengan harapan, pencapaian tujuan pendidikan menjadi niscaya.
2.
Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang
mendalam tentang ayat-ayat Allah.
Ayat berarti sinyal yang menunjukkan kepada sesuatu, seperti rambu-rambu
yang menunjukkan kondisi jalan yang mendatar, menurun, atau mendaki. Ayat-ayat
Allah adalah sinyal yang memberitahu tentang eksistensi dan keagungan Rab
semesta alam, Allah SWT. Ayat-ayat Allah tersebut, terdapat dalam diri manusia
dan alam semesta secara keseluruhan. Allah memerintahkan manusia untuk
memikirkan proses penciptaan dirinya, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan alam
semesta secara keseluruhan.
Tujuan utama pendidikan adalah melahirkan manusia yang memahami dan
menyadari eksistensi dirinya, alam semesta, dan Tuhan penciptanya serta
memahami tugas dan kewajibannya terhadap diri, lingkungan, dan kepada Tuhan
penciptanya. Seorang pendidik yang memiliki pemahaman yang mendalam tentang
ayat-ayat Allah baik materi, fungsi, maupun tujuannya, akan mampu
mentranformasikan nilai-nilai yang terkandung dalam ayat-ayat Allah kepada
peserta didik secara optimal.
3.
Memiliki jiwa yang bersih
Keberhasilan
seorang pendidik dalam melahirkan generasi yang baik tidak hanya ditentukan
oleh kapasitas intelektual yang dia miliki, kesucian jiwanya mempunyai pengaruh
yang lebih besar dalam usahanya melahirkan generasi yang baik. Ibnu qayyim al
jauzi menegaskan bahwa cahaya hanya akan muncul dari sesuatu yang bersinar.
Sebesar cahaya yang dimiliki seseorang, sebesar itulah cahaya yang akan dia
pantulkan. Seorang pendidik yang ingin mendidik sebuah generasi supaya memiliki
kebersihan jiwa, haruslah memiliki jiwa yang bersih terlebih dahulu, karena
rumah tidak bisa dibersihkan dengan sapu yang kotor.
4.
Memiliki ilmu
tentang kitab Allah dan hikmah
Seorang pendidik seharusnya memiliki ilmu tentang Al Quran dan
hikmah. Al-Quran adalah kitab suci yang menunjukkan kepada manusia jalan yang
terbaik baginya, Allah berfirman, sesungguhnya Al-Quran ini memberi
petunjuk kepada jalan yang terbaik (QS 16:44). Pendidik yang berkeinginan
menunjukkan jalan terbaik bagi kehidupan anak didiknya dituntut untuk memiliki
ilmu tentang kitab Allah (Al-Quran), karena disanalah seorang pendidik akan
mendapatkan petunjuk kehidupan terbaik.
5.
Memiliki semangat kuat untuk mengembangkan
diri, baik spiritual, intelektual, phisikal, maupun finansial.
Kehidupan manusia senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan
seiring perkembangan peradaban manusia. Manusia yang tidak berupaya untuk
melakukan usaha ke arah yang lebih baik sepanjang kehidupannya akan tergilas.
Iqbal, seorang cendekiawan muslim terkemuka dari Pakistan mengatakan, “ static
condition is death”, keadaan yang statis adalah kematian. Rasulullah SAW
menjelaskan bahwa orang yang beruntung adalah orang yang kondisinya hari
ini lebih baik dari kondisinya kemaren.
Seorang
pendidik yang bertugas menyiapkan generasi masa depan, seyogyanya memiliki
semangat kuat untuk mengembangkan diri sepanjang waktu.
Tugas seorang pendidik perspektif QS
Al Baqarah ayat 151
Tugas seorang pendidik berdasarkan telaah terhadap QS Al-Baqarah ayat
151 adalah sebagai berikut:
1.
Mengajarkan
ayat-ayat Allah.
Ayat-ayat
Allah meliputi ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat qauliyah. Ayat-ayat kauniyah
adalah ayat-ayat yang berbicara tentang fenomena kehidupan dan alam semesta.
Pengetahuan manusia tentang hakikat dirinya dan alam semesta diharapkan akan
membuatnya mengenal dan memahami Sang Pencipta. Pemahaman seseorang tentang
eksistensi diri dan penciptanya diharapkan akan membuat seseorang mengetahui
tugas dan kewajbannya sebagai manusia terhadap alam semesta dan Tuhannya.
2.
Mengajarkan
Al-Quran dan hikmah.
Salah
satu tugas utama seorang pendidik adalah mengajarkan Al-Quran dan hikmah.
Pengajaran Al-Quran meliputi cara membacanya, kandungan maknanya, dan hikmah
yang terdapat dalam ayat-ayatnya. Pemahaman anak didik terhadap makna dan hikmah
yang terkandung dalam Al-Quran merupakan petunjuk terbaik bagi kehidupannya.
§ Al-Quran mempuyai fungsi dalam hidup dan kehidupan manusia sebagai
berikut:
ü Membersihkan akal dan jiwa dari segala bentuk syirik.
ü Mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab, yakni bahwa umat manusia
merupakan satu umat yang seharusnya dapat bekerja sama dalam pengabdian kepada
Allah dan pelaksanaan tugas kekhalifahan. Memadukan kebenaran dan keadilan
dengan rahmat dan kasih sayang[2]
3.
Mendidik
anak didik agar memiliki kesucian jiwa.
Orang yang benar-benar terpelajar menurut Al-Attas adalah orang yang
baik atau beradab, yaitu orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya
kepada Tuhan yang haq, yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya
sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya, dan yang terus berupaya
meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia
yang beradab[3].
Salah satu syarat utama dari manusia yang baik adalah memiliki
kesujiwan jiwa, dalam arti memiliki akhlak yang terpuji dan terbebas dari
akhlak yang tercela. Seorang pendidik memiliki tanggung-jawab untuk melahirkan
generasi yang berakhlak mulia sebagaimana diamanatkan dalam UU Sisdiknas. Pasal
I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional
adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian
dan akhlak mulia.
Pemikir-pemikir Islam berpendapat bahwa untuk mengobati pribadi yang
sakit, harus dimulai dengan proses pembersihan (takhliyah) dari sifat-sifat
tercela, diikuti dengan proses menghiasi (tahliyah) dengan sifat-sifat terpuji,
yang dapat dijalankan melalui proses mujahadah. Caranya adalah melalui taubat
dan menyesal terhadap dosa dan maksiat yang telah dibuatnya[4].
4.
Mempersiapakan
anak didik agar memiliki masa depan yang cemerlang.
Tugas
pendidik untuk mempersiapkan anak didik agar memiliki masa depan yang lebih
baik tersirat dari kata-kata “dan akan mengajarkan kepada kamu
perkara-perkara yang tidak kamu ketahui”. Pembelajaran tentang hal-hal
yang belum diketahui sangat penting bagi anak didik, agar dia mampu menghadapi
tantangan masa depan.
Ø Asbabunnuzul Qs. AL- Baqarah
Ayat 151
Berdasarkan dari kitab Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul karya al-Imam
Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar as-Suyuthi. Qs. AL-
Baqarah Ayat 151, tidak ada.
b)
Qs.Al-Jumah
Ayat 2 dan 3 (سورة الجمعة)
بِسْمِ
اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي
الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ
وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي
ضَلالٍ مُبِينٍ (٢)وَآَخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ
العَزِيزُ الحَكِيمُ
Artinya: “Dia-lah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum
yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, mensucikan ( jiwa) mereka dan
mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah).meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata,(2)
Dan( juga) kapada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan
mereka. Dan dialah yang Maha perkasa, Maha bijaksana(3)” (Qs. Al-Jumu’ah: 2 Dan
3)
Ø Isi kandungan Qs.Al-Jumah Ayat 2
Pada ayat ini,
Allah SWT menerangkan bahwa Dia-lah yang mengutus seorang Rasul, yaitu Nabi
Muhammad Saw kepada bangsa Arab yang masih buta huruf, yang belum tahu membaca
dan menulis pada waktu itu, dengan tugas:
1.
Membacakan
ayat suci Al-Quran yang didalamnya terdapat petunjuk dan bimbingan untuk
memperoleh kebaikan dunia dan akhirat.
2.
Membersihkan
mereka dari akidah yang menyesatkan, dosa kemusyrikan, sifat-sifat jahiliyah
yang biadab sehingga mereka itu berakidah tauhid meng-Esa-kan Allah SWT, tidak
tunduk kepada pemimpin-pemimpin yang menyesatkan mereka dan tidak percaya lagi
kepada sembahan mereka seperti batu, pohon kayu dan sebagainya.
3.
Mengajarkan
kepada mereka syariat agama beserta hukum-hukumnya serta hikmah-hikmah yang
terkandung di dalamnya[5]
4.
Disebutkan
secara khusus bangsa Arab yang buta huruf itu, tidaklah berarti bahwa kerasulan
Nabi Muhammad itu terbatas hanya kepada bangsa Arab saja, tetapi kerasulan Nabi
Muhammad itu umum, meliputi semua makhluk terutama jin dan manusia, sebagaim
sebagaimana firman Allah SWT:
Firman Allah
وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين
Artinya:
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S Al Anbiya':107)
dan firman Nya:
قل يا أيها الناس إني رسول الله إليكم
Artinya:
Katakanlah: "Hai Manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua". (Q.S Al A'raf: 158)
Katakanlah: "Hai Manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua". (Q.S Al A'raf: 158)
Ayat
kedua ini, diakhiri dengan ungkapan bahwa orang Arab itu, sebelumnya
benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Mereka itu pada umumnya menganut dan
berpegang teguh kepada agama samawy yaitu agama Nabi Ibrahim as lalu mereka
mengubah dan menukar akidah tauhid dengan syirik, keyakinan mereka dengan
keraguan, mengadakan sesembahan selain dari Allah SWT.
Menurut Syekh
Moh. Abduh sebagaimana dikutip oleh Moh. Quraish Shihab, memahami ayat tersebut
sebagai bentuk kekuasaan. Kebijaksanaan dan ke-Esaan-Nya. Kemudian (membacakan
ayat-ayat tersebut) dalam arti menjelaskannya dan mengarahkan jiwa manusia
untuk meraih manfaat, pelajaran darinya. Sedangkan makna (mensucikan mereka)
adalahmembersihkan jiwa mereka dari keyakinan-keyakinan yang sesat, kekotoran
akhlak dan lain-lainyang merajalela pada masa jahiliyah, sedangkan (mengajar
kitab) dipahami oleh Moh. Abduh sebagai mengajar tulis menulis dengan pena,
karena sesungguhnya agama islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw ini telah
mengharuskan mereka belajar tulisan dengan penadan membebaskan mereka dari buta
huruf, karena agama tersebut mendorong (bangkitnya) peradaban, serta pengaturan
urusan umat. Adapun (hikmah), maknanya menurut Abduh adalah rahasia
persoalan-persoalan (agama), pengetahuan hukum, penjelasan tentang kemaslahatan
serta pengamalan. [6]
Ø
Asbabunnuzul
Qs.Al-Jumah Ayat 2 dan 3
Berdasarkan
dari kitab Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul karya al-Imam Jalaluddin
Abdurrahman bin Abubakar as-Suyuthi. Qs.Al-Jumah Ayat 2 dan 3, tidak
ada.
B.
Guru
( pendidik) harus bersifat kasih sayang terhadap muridnya.
a)
Qs.
Al-Imran Ayat 159 (Keluarga Imran)
بِسْمِ
اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
فَبِمَا
رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ
لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ
فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ
الْمُتَوَكِّلِينَ (١٥٩)
Artinya:
Maka berkat rahmat Allah engkau ( Muhammad) berlaku lemah lembut terhadapmereka.Sekiranya
engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekitarmu. Karena itu maafkanlah ampunan untuk mereka dalam urusan itu[7].
Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah.
sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.
Ø Isi kandungan Qs. Al-Imran Ayat 159
Surah Ali Imran Ayat 159 menyebutkan tiga hal secara berurutan untuk
dilakukan sebelum bermusyawarah, yaitu sebagai berikut :
1. Bersikap lemah lembut.
Orang yang melakukan musyawarah harus menghindari tutur kata yang kasar
serta sikap keras kepala. Jika tidak,maka mitra musyawarah akan pergi menghindar.
2. Memberi maaf dan bersedia membuka diri.
Kecerahan pikiran hanya dapat hadir bersamaan dengan sirnanya kekerasan
hati serta kedengkian dan dendam.
3. Memohon ampunan Allah sebagai pengiring dalam
bertekad,
Memohon ampunan Allah sebagai pengiring dalam bertekad, kemudian bertawakal
kepada-Nya atas keputusan yang dicapai. Musyawarah Yang diharapkan dari
musyawarah adalah mufakat untuk kebenaran karena Nabi Muhammad saw. Di dalam bermusyawarah,
kadang terjadi perselisihan pendapat atau perbedaan.
Musyawarah
dalam islam dan faedah-faedahnya:
1.
Melalui
musyawarah dapat diketahui kadar akal, pemahaman, kadar kecintaan, dan
keikhlasan terhadap kemaslahatan umum
2.
Kemampuan
akal manusia itu bertingkat tingkat, dan jalan berpikirnyapun berbeda-beda.
Sebab kemungkinan ada diantara mereka mempunyai satu kelebihan yang tidak
dimiliki orang lain, para pembesar sekalipun
3.
Semua
pendapat itu diuji kemampuannya. Setelah itu dipilih pendapat yang paling baik.
4.
Di
dalam musyawarah akan tampak bertautnya hati untuk menyukseskan suatu upaya dan
kesepakatan hati. Oleh sebab itu berjamaah lebih afdal di dalam solat fardu.
berjmaah lebih afdal dari pada solat sendiri, dengan perbedaan dua puluh tujuh
derajat
Ø Asbabunnuzul Qs. Al-Imran Ayat 159
Berdasarkan dari kitab Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul karya al-Imam
Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar as-Suyuthi. Qs.
Al-Imran Ayat 159, tidak ada.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Q.S Al-Baqarah Ayat 151
Dalam dunia pendidikan, pengetahuan dan
pemahaman yang mendalam seorang pendidik terhadap anak didiknya akan
lebih menjamin tercapainya tujuan pendidikan. Pengetahuan mendalam seorang
pendidik tentang anak didik sangat membantu dalam memilih metode dan materi
pendidikan yang sesuai dengan anak didik. Pemilihan materi dan metode
pendidikan yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan peserta didik akan membuat
proses pendidikan berjalan sesuai dengan harapan. Ketika proses pendidikan
sudah berjalan sesuai dengan harapan, pencapaian tujuan pendidikan menjadi
niscaya.
Qs.Al-Jumah Ayat 2
Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa Nabi Muhammad Saw ini telah mengharuskan mereka belajar tulisan
dengan penadan membebaskan mereka dari buta huruf, karena agama tersebut
mendorong (bangkitnya) peradaban, serta pengaturan urusan umat. Adapun (hikmah),
maknanya menurut Abduh adalah rahasia persoalan-persoalan (agama), pengetahuan
hukum, penjelasan tentang kemaslahatan serta pengamalan.
Qs. Al-Imran Ayat 159
Qs. Al-Imran Ayat 159
Pada ayat ini dijelaskan, seorang
pendidik harus mencontoh dan mengambil teladan dari nabi Muhammad SAW yaitu
dengan cara lemah lembut berdasarkan rahmat Allah SWT, setiap persoalan
diselesaikan dengan jalan musyawarah dalam proses pendiikan.
DAFTAR PUSTAKA
Hamka, Tafsir
Al Azhar, 2000, Jakarta: Pustaka Panjimas),
M. Quraisy Shihab, Tafsir Al Misbah Vol 14, 2007, Jakarta:
Lentera Hati
Sayyid
Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 22, 2004, Jakarta: Gema Insani
Shihab,
M. Quraish, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002) Vol. 14
http://ibnunazir.wordpress.com/2011/12/17/kriteria-dan-tugas-pendidik-perspektif-qs-al-baqarah-ayat-151/Navigasi
tulisan.
[1]http://ibnunazir.wordpress.com/2011/12/17/kriteria-dan-tugas-pendidik-perspektif-qs-al-baqarah-ayat-151/Navigasi tulisan.
[2] Hamka, Tafsir Al Azhar,
(2000, Jakarta: Pustaka Panjimas), hal 163
[3] M. Quraisy Shihab, Tafsir
Al Misbah Vol 14, (2007, Jakarta: Lentera Hati) hal 219
[4] Sayyid Quthb, Tafsir
Fi Zhilalil Qur’an Jilid 22, (2004, Jakarta: Gema Insani), hal 92
[5]
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=62
[6] Shihab, M. Quraish, Tafsir
Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002) Vol. 14, hlm. 220
[7] Urusan peperangan dalam
hal duniawi lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan
lain-lain

Harrah's Ak-Chin Casino & Resort - Tunica Hotels
BalasHapus777 Harrah's Ak-Chin 서귀포 출장마사지 Blvd, Tunica Resorts, MS 김제 출장안마 39530 - Use this simple 제주도 출장마사지 form to find hotels, motels, and other lodging near Harrah's Ak-Chin Casino 대구광역 출장샵 & Resort 광주 출장마사지 in