Jumat, 12 Februari 2016

MAKALAH TAFSIR “PENDIDIK DALAM PROSES PENDIDIKAN & SIFAT PENDIDIK DALAM PERSPEKIF AL-QURAN”

Pertemuan ke

MAKALAH TAFSIR
“PENDIDIK DALAM PROSES PENDIDIKAN & SIFAT PENDIDIK DALAM PERSPEKIF AL-QURAN”

Makalah Ini Disusun  Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur
Mata Kuliah Tafsir
Dosen Pengampu : Moh.Idris Hasan, Lc, M.A, Ph.D



STAIS 1.png
 









Disusun Oleh Kelompok 4 :
1.      Karomah
2.      Istiqomah
3.      Ifan Andi Priyanto
4.      Imam Haromain
SEMESTER  :  TARBIYAH/ 6 (Enam)B

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM SUFYAN TSAURI (STAIS) MAJENANG
Jl.KH. Sufyan Tsauri Po Box I8 Majenang Tlp. (0280) 623562
 Cilacap  2013 / 2014


KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat, taufik dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah Tafsir yang berjudul ”Pendidik Dalam Proses Pendidikan & Sifat Pendidik Dalam Perspektif Al-Quran”.  Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada baginda kita, Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya  yang setia sampai akhir zaman.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1.    Bapak  Moh.Idris Hasan, Lc, M.A, Ph.D pelaku dosen mata kuliah tafsir yang telah memberikan bimbingan, dorongan dan nasehat yang baik kepada kami.
2.    Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas ini.
Penulis menyadari dalam Penyusunan Makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan pada masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.


Majenang, Juli 2014
                                                                                                   

                                                                                                     Penulis





DAFTAR ISI

Halaman judul........................................................................................................... i
Kata pengantar ........................................................................................................ ii
Daftar isi................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
a.    Latar Belakang.................................................................................................... 1
b.    Rumusan Masalah............................................................................................... 1
c.    Tujuan dan Manfaat Pembahasan....................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN
A.  Pendidik  (Guru) Dalam Proses Pendidikan
a.    Tafsir Qs Al-Baqarah ayat 151...................................................................... 2
Ø Ayat Dan Terjemah................................................................................. 2
Ø Isi Kandungan ( makna).......................................................................... 2
Ø Asbabunnuzul.......................................................................................... 6
b.    Tafsir Qs Al-jumah Ayat 2 ............................................................................ 6
Ø Ayat Dan Terjemah................................................................................. 6
Ø Isi Kandungan ( makna).......................................................................... 6
Ø Asbabunnuzul.......................................................................................... 8

B.  Guru Harus Bersifat Kasih Sayang Terhadap Murid Dalam Proses Pendidikan
a.    Tafsir al-imran ayat 159.................................................................................. 8
Ø  Ayat dan terjemah.................................................................................. 8
Ø  Isi Kandungan ( Makna)......................................................................... 8
Ø  Asbabunnuzul......................................................................................... 9

BAB III  PENUTUP
A.    Kesimpulan........................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 11




BAB II
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Seorang pendidik mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pendidikan. Pendidik adalah tempat bertanya bagi anak didiknya ketika mereka tidak memhami suatu permasalahan. Pendidik adalah suri tauladan utama bagi anak didik dan mempunyai peranan sangat penting dalam proses pembentukan karakternya. Mengingat begitu pentingnya peran seorang pendidik dalam proses pendidikan, penulis memandang perlu upaya memahami kriteria dan tugas seorang pendidik menurut perspektif Al-Quran. Al-Quran adalah kitab suci yang memberi petunjuk kepada manusia jalan yang terbaik bagi kehidupan duniawi dan ukhrawi mereka. Al-Quran mengandung pelajaran-pelajaran penting untuk mengatur segala aspek kehidupan manusia, termasuk pendidikan.
Ayat-ayat Al-Quran yang mengandung pelajaran tentang pendidikan sangat banyak, salah satunya adalah ayat 151 surat Al-Baqarah yang menjelaskan tugas dan peran kerasulan yang berarti juga tugas dan peran seorang pendidik. Makalah ini akan berbicara tentang krteria dan dan tugas seorang pendidik perspektif QS Al_Baqarah ayat 151 dan QS AL-Jumah ayat 2 dan Sikap Guru yang  Harus Bersifat Kasih Sayang Terhadap Murid QAL-Imran Ayat 159

B.  Rumusan Masalah
Mahasiswa Diharapkan  Mampu Mengethui Kandungan Makna, Serta Mampu  Memahami Isi Kandungan Tafsir Al-Quran:
1.    QS Al_Baqarah ayat 151
2.    QS AL-Jumah ayat 2 dan 3
3.    QS AL-Imran Ayat 159

C.  Tujuan  dan manfaat Pembahasan
Dengan adanya rumusan diatas mahasiswa diharapkan mampu Untuk Mengetahui Surah, Kandungan Makna, Mengetahui Factor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendidik Serta Sifat Pendidik dalam surah QS Al_Baqarah ayat 151, QS AL-Jumah ayat 2 dan3, dan QS AL-Imran Ayat 159, serta dapat mengaplikasikan makna kandungan pada tafsir diatas dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Guru (Pendidik) Dalam Proses Pendidikan
a) Q.S Al-Baqarah Ayat 151( Sapi )
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

 
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

Artinya:
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul (Muhammad) dari kalangan kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab (Al-Quran) dan Al-Hikmah (As Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.

Ø Isi kandungan Q.S Al-Baqarah Ayat 151
Dilihat dari perspektif ilmu pendidikan, ayat di atas  menjelaskan kriteria dan tugas seorang pendidik[1].
Kriteria seorang pendidik perspektif QS Al Baqarah ayat 151
1.    Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang anak didiknya dan  mampu berkomunikasi secara efektif dan efisien.
Kriteria pertama ini tersirat dari kata-kata “ dari kalangan kamu sendiri”, dalam ayat lain dikatakan “ dengan bahasa kaum mereka”. Seorang Rasul yang berasal dari kaumnya sendiri, diyakini memiliki pengetahuan yang mendalam tentang kaumnya dan kemampuan berkomunikasi yang bijak dan efektif. Hal tersebut sangat penting karena apabila seorang Rasul yang bertugas sebagai pendidik, tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang kaumnya, serta tidak mampu melakukan komunikasi yang bijak dan efektif, maka kemungkinan besar tugas kerasulannya akan gagal.
Surat Al-Baqarah ayat 151 mengisyaratkan hal tersebut dengan kata-kata “ dari kalangan kamu sendiri”.
Demikian pula halnya dalam dunia pendidikan, pengetahuan dan pemahaman yang mendalam  seorang pendidik terhadap anak didiknya akan lebih menjamin tercapainya tujuan pendidikan. Pengetahuan mendalam seorang pendidik tentang anak didik sangat membantu dalam memilih metode dan materi pendidikan yang sesuai dengan anak didik. Pemilihan materi dan metode pendidikan yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan peserta didik akan membuat proses pendidikan berjalan sesuai dengan harapan. Ketika proses pendidikan sudah berjalan sesuai dengan harapan, pencapaian tujuan pendidikan menjadi niscaya.
2.    Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang ayat-ayat Allah.
Ayat berarti sinyal yang menunjukkan kepada sesuatu, seperti rambu-rambu yang menunjukkan kondisi jalan yang mendatar, menurun, atau mendaki. Ayat-ayat Allah adalah sinyal yang memberitahu tentang eksistensi dan keagungan Rab semesta alam, Allah SWT. Ayat-ayat Allah tersebut, terdapat dalam diri manusia dan alam semesta secara keseluruhan. Allah memerintahkan manusia untuk memikirkan proses penciptaan dirinya, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan alam semesta secara keseluruhan.
Tujuan utama pendidikan adalah melahirkan manusia yang memahami dan menyadari eksistensi dirinya, alam semesta, dan Tuhan penciptanya serta memahami tugas dan kewajibannya terhadap diri, lingkungan, dan kepada Tuhan penciptanya. Seorang pendidik yang memiliki pemahaman yang mendalam tentang ayat-ayat Allah baik materi, fungsi, maupun tujuannya, akan mampu mentranformasikan nilai-nilai yang terkandung dalam ayat-ayat Allah kepada peserta didik secara optimal.   
3.    Memiliki jiwa yang bersih
Keberhasilan seorang pendidik dalam melahirkan generasi yang baik tidak hanya ditentukan oleh kapasitas intelektual yang dia miliki, kesucian jiwanya mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam usahanya melahirkan generasi yang baik. Ibnu qayyim al jauzi menegaskan bahwa cahaya hanya akan muncul dari sesuatu yang bersinar. Sebesar cahaya yang dimiliki seseorang, sebesar itulah cahaya yang akan dia pantulkan. Seorang pendidik yang ingin mendidik sebuah generasi supaya memiliki kebersihan jiwa, haruslah memiliki jiwa yang bersih terlebih dahulu, karena rumah tidak bisa dibersihkan dengan sapu yang kotor.
4.    Memiliki ilmu tentang kitab Allah dan hikmah
Seorang pendidik seharusnya memiliki ilmu tentang  Al Quran dan hikmah. Al-Quran adalah kitab suci yang menunjukkan kepada manusia jalan yang terbaik baginya, Allah berfirman,  sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk kepada jalan yang terbaik (QS 16:44). Pendidik yang berkeinginan menunjukkan jalan terbaik bagi kehidupan anak didiknya dituntut untuk memiliki ilmu tentang kitab Allah (Al-Quran), karena disanalah seorang pendidik akan mendapatkan petunjuk kehidupan terbaik.
5.    Memiliki semangat kuat untuk mengembangkan diri, baik spiritual, intelektual, phisikal, maupun finansial.
Kehidupan manusia senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan seiring perkembangan peradaban manusia. Manusia yang tidak berupaya untuk melakukan usaha ke arah yang lebih baik sepanjang kehidupannya akan tergilas. Iqbal, seorang cendekiawan muslim terkemuka dari Pakistan mengatakan, “ static condition is death”, keadaan yang statis adalah kematian. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang beruntung adalah orang  yang kondisinya hari ini lebih baik dari kondisinya kemaren.
Seorang pendidik yang bertugas menyiapkan generasi masa depan, seyogyanya memiliki semangat kuat untuk mengembangkan diri sepanjang waktu.
Tugas seorang pendidik perspektif QS Al Baqarah ayat 151
           Tugas seorang pendidik berdasarkan telaah terhadap QS Al-Baqarah ayat 151 adalah sebagai berikut:
1.    Mengajarkan ayat-ayat Allah.
Ayat-ayat Allah meliputi ayat-ayat kauniyah dan ayat-ayat qauliyah. Ayat-ayat kauniyah adalah ayat-ayat yang berbicara tentang fenomena kehidupan dan alam semesta. Pengetahuan manusia tentang hakikat dirinya dan alam semesta diharapkan akan membuatnya mengenal dan memahami Sang Pencipta. Pemahaman seseorang tentang eksistensi diri dan penciptanya diharapkan akan membuat seseorang mengetahui tugas dan kewajbannya sebagai manusia terhadap alam semesta dan Tuhannya.
2.    Mengajarkan Al-Quran dan hikmah.
Salah satu tugas utama seorang pendidik adalah mengajarkan Al-Quran dan hikmah. Pengajaran Al-Quran meliputi cara membacanya, kandungan maknanya, dan hikmah yang terdapat dalam ayat-ayatnya. Pemahaman anak didik terhadap makna dan hikmah yang terkandung dalam Al-Quran merupakan petunjuk terbaik bagi kehidupannya.
§  Al-Quran mempuyai fungsi dalam hidup dan kehidupan manusia sebagai berikut:
ü Membersihkan akal dan jiwa dari segala bentuk syirik.
ü Mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab, yakni bahwa umat manusia merupakan satu umat yang seharusnya dapat bekerja sama dalam pengabdian kepada Allah dan pelaksanaan tugas kekhalifahan. Memadukan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih sayang[2] 
3.    Mendidik anak didik agar memiliki kesucian jiwa.
Orang yang benar-benar terpelajar menurut Al-Attas adalah orang yang baik atau beradab, yaitu orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Tuhan yang haq, yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya, dan yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia yang beradab[3].
Salah satu syarat utama dari manusia yang baik adalah memiliki kesujiwan jiwa, dalam arti memiliki akhlak yang terpuji dan terbebas dari akhlak yang tercela. Seorang pendidik memiliki tanggung-jawab untuk melahirkan generasi yang berakhlak mulia sebagaimana diamanatkan dalam UU Sisdiknas. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.
Pemikir-pemikir Islam berpendapat bahwa untuk mengobati pribadi yang sakit, harus dimulai dengan proses pembersihan (takhliyah) dari sifat-sifat tercela, diikuti dengan proses menghiasi (tahliyah) dengan sifat-sifat terpuji, yang dapat dijalankan melalui proses mujahadah. Caranya adalah melalui taubat dan menyesal terhadap dosa dan maksiat yang telah dibuatnya[4].
4.     Mempersiapakan anak didik agar memiliki masa depan yang cemerlang.
Tugas pendidik untuk mempersiapkan anak didik agar memiliki masa depan yang lebih baik tersirat dari kata-kata “dan akan mengajarkan kepada kamu perkara-perkara yang tidak kamu ketahui”. Pembelajaran tentang hal-hal yang belum diketahui sangat penting bagi anak didik, agar dia mampu menghadapi tantangan masa depan.
Ø Asbabunnuzul  Qs. AL- Baqarah Ayat 151
Berdasarkan dari kitab Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul karya al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar as-Suyuthi. Qs. AL- Baqarah Ayat 151, tidak ada.

b)   Qs.Al-Jumah Ayat 2 dan 3 (سورة الجمعة)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (٢)وَآَخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ العَزِيزُ الحَكِيمُ 
Artinya:  “Dia-lah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka  ayat-ayat-Nya, mensucikan ( jiwa) mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah).meskipun sebelumnya,  mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata,(2) Dan( juga) kapada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan dialah yang Maha perkasa, Maha bijaksana(3)” (Qs. Al-Jumu’ah: 2 Dan 3)
Ø Isi kandungan Qs.Al-Jumah Ayat 2 
Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa Dia-lah yang mengutus seorang Rasul, yaitu Nabi Muhammad Saw kepada bangsa Arab yang masih buta huruf, yang belum tahu membaca dan menulis pada waktu itu, dengan tugas:
1.    Membacakan ayat suci Al-Quran yang didalamnya terdapat petunjuk dan bimbingan untuk memperoleh kebaikan dunia dan akhirat.
2.    Membersihkan mereka dari akidah yang menyesatkan, dosa kemusyrikan, sifat-sifat jahiliyah yang biadab sehingga mereka itu berakidah tauhid meng-Esa-kan Allah SWT, tidak tunduk kepada pemimpin-pemimpin yang menyesatkan mereka dan tidak percaya lagi kepada sembahan mereka seperti batu, pohon kayu dan sebagainya.
3.    Mengajarkan kepada mereka syariat agama beserta hukum-hukumnya serta hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya[5]
4.    Disebutkan secara khusus bangsa Arab yang buta huruf itu, tidaklah berarti bahwa kerasulan Nabi Muhammad itu terbatas hanya kepada bangsa Arab saja, tetapi kerasulan Nabi Muhammad itu umum, meliputi semua makhluk terutama jin dan manusia, sebagaim sebagaimana firman Allah SWT:

Firman Allah

وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين

Artinya:
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S Al Anbiya':107)

dan firman Nya:

قل يا أيها الناس إني رسول الله إليكم

Artinya:
Katakanlah: "Hai Manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua". (Q.S Al A'raf: 158)
Ayat kedua ini, diakhiri dengan ungkapan bahwa orang Arab itu, sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Mereka itu pada umumnya menganut dan berpegang teguh kepada agama samawy yaitu agama Nabi Ibrahim as lalu mereka mengubah dan menukar akidah tauhid dengan syirik, keyakinan mereka dengan keraguan, mengadakan sesembahan selain dari Allah SWT.
Menurut Syekh Moh. Abduh sebagaimana dikutip oleh Moh. Quraish Shihab, memahami ayat tersebut sebagai bentuk kekuasaan. Kebijaksanaan dan ke-Esaan-Nya. Kemudian (membacakan ayat-ayat tersebut) dalam arti menjelaskannya dan mengarahkan jiwa manusia untuk meraih manfaat, pelajaran darinya. Sedangkan makna (mensucikan mereka) adalahmembersihkan jiwa mereka dari keyakinan-keyakinan yang sesat, kekotoran akhlak dan lain-lainyang merajalela pada masa jahiliyah, sedangkan (mengajar kitab) dipahami oleh Moh. Abduh sebagai mengajar tulis menulis dengan pena, karena sesungguhnya agama islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw ini telah mengharuskan mereka belajar tulisan dengan penadan membebaskan mereka dari buta huruf, karena agama tersebut mendorong (bangkitnya) peradaban, serta pengaturan urusan umat. Adapun (hikmah), maknanya menurut Abduh adalah rahasia persoalan-persoalan (agama), pengetahuan hukum, penjelasan tentang kemaslahatan serta pengamalan. [6]

Ø Asbabunnuzul Qs.Al-Jumah Ayat 2 dan 3
Berdasarkan dari kitab Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul karya al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar as-Suyuthi. Qs.Al-Jumah Ayat 2 dan 3, tidak ada.

B.  Guru ( pendidik) harus bersifat kasih sayang terhadap muridnya.
a)   Qs. Al-Imran Ayat 159 (Keluarga Imran)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (١٥٩)

Artinya: Maka berkat rahmat Allah engkau ( Muhammad) berlaku lemah lembut terhadapmereka.Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah ampunan untuk mereka dalam urusan itu[7]. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.  

Ø Isi kandungan Qs. Al-Imran Ayat 159
Surah Ali Imran Ayat 159 menyebutkan tiga hal secara berurutan untuk dilakukan sebelum bermusyawarah, yaitu sebagai berikut :
1.    Bersikap lemah lembut.
Orang yang melakukan musyawarah harus menghindari tutur kata yang kasar serta sikap keras kepala. Jika tidak,maka mitra musyawarah akan pergi menghindar.
2.    Memberi maaf dan bersedia membuka diri.
Kecerahan pikiran hanya dapat hadir bersamaan dengan sirnanya kekerasan hati serta kedengkian dan dendam.
3.    Memohon ampunan Allah sebagai pengiring dalam bertekad,
Memohon ampunan Allah sebagai pengiring dalam bertekad, kemudian bertawakal kepada-Nya atas keputusan yang dicapai. Musyawarah Yang diharapkan dari musyawarah adalah mufakat untuk kebenaran karena Nabi Muhammad saw. Di dalam bermusyawarah, kadang terjadi perselisihan pendapat atau perbedaan.
Musyawarah dalam islam dan faedah-faedahnya:
1.    Melalui musyawarah dapat diketahui kadar akal, pemahaman, kadar kecintaan, dan keikhlasan terhadap kemaslahatan umum
2.    Kemampuan akal manusia itu bertingkat tingkat, dan jalan berpikirnyapun berbeda-beda. Sebab kemungkinan ada diantara mereka mempunyai satu kelebihan yang tidak dimiliki orang lain, para pembesar sekalipun
3.    Semua pendapat itu diuji kemampuannya. Setelah itu dipilih pendapat yang paling baik.
4.    Di dalam musyawarah akan tampak bertautnya hati untuk menyukseskan suatu upaya dan kesepakatan hati. Oleh sebab itu berjamaah lebih afdal di dalam solat fardu. berjmaah lebih afdal dari pada solat sendiri, dengan perbedaan dua puluh tujuh derajat

Ø Asbabunnuzul Qs. Al-Imran Ayat 159
Berdasarkan dari kitab Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul karya al-Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abubakar as-Suyuthi. Qs. Al-Imran Ayat 159, tidak ada.








BAB III
PENUTUP


A.  Kesimpulan
Q.S Al-Baqarah Ayat 151
Dalam dunia pendidikan, pengetahuan dan pemahaman yang mendalam  seorang pendidik terhadap anak didiknya akan lebih menjamin tercapainya tujuan pendidikan. Pengetahuan mendalam seorang pendidik tentang anak didik sangat membantu dalam memilih metode dan materi pendidikan yang sesuai dengan anak didik. Pemilihan materi dan metode pendidikan yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan peserta didik akan membuat proses pendidikan berjalan sesuai dengan harapan. Ketika proses pendidikan sudah berjalan sesuai dengan harapan, pencapaian tujuan pendidikan menjadi niscaya.
Qs.Al-Jumah Ayat 2
Pada ayat ini, Allah SWT menerangkan bahwa Nabi Muhammad Saw ini telah mengharuskan mereka belajar tulisan dengan penadan membebaskan mereka dari buta huruf, karena agama tersebut mendorong (bangkitnya) peradaban, serta pengaturan urusan umat. Adapun (hikmah), maknanya menurut Abduh adalah rahasia persoalan-persoalan (agama), pengetahuan hukum, penjelasan tentang kemaslahatan serta pengamalan.
Qs. Al-Imran Ayat 159
Pada ayat ini dijelaskan, seorang pendidik harus mencontoh dan mengambil teladan dari nabi Muhammad SAW yaitu dengan cara lemah lembut berdasarkan rahmat Allah SWT, setiap persoalan diselesaikan dengan jalan musyawarah dalam proses pendiikan.






DAFTAR PUSTAKA

Hamka, Tafsir Al Azhar, 2000, Jakarta: Pustaka Panjimas),
M. Quraisy Shihab, Tafsir Al Misbah Vol 14, 2007, Jakarta: Lentera Hati
Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 22, 2004, Jakarta: Gema Insani
Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002) Vol. 14
http://ibnunazir.wordpress.com/2011/12/17/kriteria-dan-tugas-pendidik-perspektif-qs-al-baqarah-ayat-151/Navigasi tulisan.



[1]http://ibnunazir.wordpress.com/2011/12/17/kriteria-dan-tugas-pendidik-perspektif-qs-al-baqarah-ayat-151/Navigasi tulisan.

[2] Hamka, Tafsir Al Azhar, (2000, Jakarta: Pustaka Panjimas), hal 163
[3] M. Quraisy Shihab, Tafsir Al Misbah Vol 14, (2007, Jakarta: Lentera Hati) hal 219
[4] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 22, (2004, Jakarta: Gema Insani), hal 92
[5] http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=62
[6] Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002) Vol. 14, hlm. 220
[7] Urusan peperangan dalam hal duniawi lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lain
 


 

1 komentar:

  1. Harrah's Ak-Chin Casino & Resort - Tunica Hotels
    777 Harrah's Ak-Chin 서귀포 출장마사지 Blvd, Tunica Resorts, MS 김제 출장안마 39530 - Use this simple 제주도 출장마사지 form to find hotels, motels, and other lodging near Harrah's Ak-Chin Casino 대구광역 출장샵 & Resort 광주 출장마사지 in

    BalasHapus