Jumat, 12 Februari 2016

MAKALAH PSIKOLOGI ANAK DAN REMAJA “KERENGGANGAN HUBUNGAN ANTARA REMAJA DENGAN ORANGTUA”



MAKALAH PSIKOLOGI  ANAK DAN REMAJA
KERENGGANGAN HUBUNGAN ANTARA REMAJA DENGAN ORANGTUA”
Makalah Ini Disusun  Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Anak Dan Remaja
Dosen Pengampu : Drs.Muchalim




STAIS 1.png
 









                                                                                                         .

Disusun Oleh  :
KAROMAH

SEMESTER  :  TARBIYAH/ 6 (Enam)B


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM SUFYAN TSAURI (STAIS) MAJENANG
Jl.KH. Sufyan Tsauri Po Box I8 Majenang Tlp. (0280) 623562
 Cilacap  2013 / 2014




KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata΄ala, karena berkat rahmat-Nya penulis bisa menyelesaikan makalah Psikologi Anak dan Remaja “Kerenggangan Hubungan Orang Tua Dan Remaja”   makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah psikologi anak dan remaja yang bimbing oleh Drs. Muchalim
Dengan disusunnya makalah ini diharapkan mahasiswa dapat memahami point-point dari isi pembahasan tentang kerenggangan hubungan anak dan remaja, serta dapat mengatasi permasalahan yang ada. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini sehingga dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Kami juga menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan informasi bagi yang membacanya dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua. Amin..!!





Majenang, 5 Mei  2014


Penyusun



DAFTAR ISI


Halaman judul................................................................................................................ i
Kata pengantar........................................................................................................... .. ii
Daftar isi.................................................................................................................... . iii
BAB I PENDAHULUAN                                                                
A.  Latar Belakang.................................................................................................. 1
B.  Rumusan Masalah............................................................................................. 2
C.  Tujuan Pembahasan........................................................................................    2
D.  Manfaat Pembahasan........................................................................................ 3

BAB II PEMBAHASAN
A.  Pengertian Kerenggangan Hubungan Antara Remaja Dan Orang Tua.......... .. 3
B.  Latar Belakang Timbulnya Kerenggangan Antara Orang Tua dan Remaja...... 3
C.  Usaha Mengatasi Konflik Remaja dan Orang Tua........................................... 6

BAB III PENUTUP
A.      Kesimpulan .................................................................................................... .. 9
B.       Saran............................................................................................................... .. 9
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 10





PBAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Hubungan orangtua dan anak adalah hubungan antar manusia yang paling dalam dan mendasar, sebab orangtua merupakan sumber atau asal keberadaan sang anak. Bahkan, terjadi suatu ikatan yang begitu dalam antara keduanya dan tidak tergantikan oleh siapapun. Hubungan yang harmonis ini harus tetap dipelihara, sebab rusaknya hubungan orangtua dan anak dapat mengakibatkan gangguan batin yang membuat hidup tidak bisa tenteram, termasuk anak di usia remaja. Dalam hal ini, komunikasi yang efektif mendefinisikan bagaimana peranan orangtua dalam membina komunikasi dengan anak remaja mereka. Hal ini sangat penting karena salah satu cara mempersiapkan remaja menjadi pribadi yang utuh adalah mengajari mereka bagaimana caranya berkomunikasi[1].
Sebelum masa remaja, anak-anak tergantung secara mutlak pada orangtua. Anak diasuh dan dirawat oleh orangtua.Hubungan anak dan orang tua begitu sangat erat, sehingga orangtua pada umumnya mengetahui suasana hati dan jalan pikir anaknya. Pada masa remaja terlihat merenggangnya hubungan antara remaja dan orang tua dengan remaja putra putri. Kerenggangan ini semakin lama semakin terasa  oleh kedua belah pihak. Hubungan dalam bentuk percakapan makin jarang akhirnya hubungan tersebut sedemikian renggangnya, sehingga kesan yang diperoleh dari hubungan mereka berupa usaha untuk melepaskan diri ingin berdiri sendiri. Sejalan dengan bertambahnya pertentangan antara terlihat pula keinginan yang besar untuk berkumpul dengan teman-teman sebaya. Disatu pihak para remaja merasa tidak dimengerti oleh orang tua. Sebaliknya orangtua tidak mengetahui isi hati para remaja. Kesimpangsiuran dalam hal pandangan dan pendapat, menyebabkan kehidupan yang berbeda, untuk itu makalah ini akan memaparkan tentang pembahasan kerenggangan antara remaja dan orangtua[2].

B.  Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.    Apa yang diimaksud dengan kerenggangan remaja dan orangtua
2.    Faktor yang melatarbelakangi kerenggangan remaja dan orangtua
3.    Usaha mengatasi konflik remaja dan orangtua.

C.  Tujuan Pembahasan
Berdasarkan rumusan makalah diatas, mahasiswa diharapkan mampu untuk mengetahui dan menjelaskan lebih mendalam tentang:
1.    Kerenggangan remaja dan orangtua
2.    Latarbelakangi kerenggangan remaja dan orangtua
3.    Usaha mengatasi konflik remaja dan orangtua.

D.  Manfaat Pembahasan
Dengan adanya pembahasan kerenggangan remaja dan orangtua dalam proses pembelajaran  psikologi anak dan remaja mahasiswa mampu:
1.    Membedakan mana yang baik dan yang tidak baik sehingga dapat mencegah terjadinya konflik remaja yang kepanjangan.
2.    Menjalin hubungan yang harmonis antara remaja dan orangtua dalam kehidupan sehari-hari.
3.    Menanggulangi permasalahan yang dihadapi remaja pada kehidupan sehari-hari










BAB II
PEMBAHASAN

Bukan saja di kota metropolitan orangtua seringkali mengeluh mengenai anak remaja mereka, melainkan orang tua dibelahan bumi lainnya tidak terhindar dari gangguan mengenai anak remaja. Sebaliknya para remaja tidak jarang mengecam pandangan dan pendapat orang tua yang dihadapinya sebagai “ tidak sesuai dengan zaman” .Seringkali orang tua mengatakan pada zaman mereka masa muda, tidak ada keluhan seperti mereka. Akhir-akhir ini remaja disoroti dari berbagai sudut pandang. 
A.  Pengertian Kerenggangan Hubungan Antara  Remaja dan Orang Tua
Dalam kanus bahasa indonesia( kbbi) renggang adalah tidak rapat, ada celah, menjauh, jadi hubungan kerenggangan hubungan remaja dengan orangtua adalah  kesinambungan interaksi antara anak dan orangtua yang terbatas dengan jarak semakin jauh atau tidak berfungsinya hubungan yang harmonis atau tidak terjalinya dengan baik antara keduannya dalam proses kehidupan manusia.Dalam menjalin hubungan  antara remaja dengan orang tua ini sangat dibutuhkan anak, jika terganggu dan dihadapkan anak dengan masalah yang harus dihadapkan dengan kepentingan orang tua , menyebabkan anak remaja yang bersamngkutan merasa seakan-akan tidak ada jalan keluar dan berakibat sangat fatal seperti putus asa, depresif dan akhirnya mengambil keputusan untuk bunuh diri sajah[3]

B.  Latar Belakang Timbulnya Kerenggangan Antara Orangtua dan Remaja
Latar belakang dari perubahan sifat hubungan antara orangtua dan putra-putri remaja ini menunjukan bahwa kerenggangan tidak merupakan suatu bentuk kenakalan atau penyimpangan tingkahlaku remaja melainkan suatu akibat perkembangan yang dialami pada saat remaja. Dengan demikian setiap remaja selalu akan mengalami saat kerenggangan dalam hubungan-hubungan didalam keluarga. Akan tetapi derajat kerenggangan dan akibat-akibatnya tidak sama, tergantung dari banyak hal antara lain suasana keluarga[4].  
Latar belakang timbulnya konflik keluarga
Mengingat eratnya hubungan antara perkembangan intellek seseorang dengan daya berpikirannya dapat dikemukan bahwa dengan bertambahnya  daya pikir kritis menyebabkan perubahan dalam penerimaan remaja terhadap ideologi keluarga. Menurut seorang ahli bernama J.Barnett : para remaja terpaksa melepaskan diridari ikatan emosional dengan orangtuanya. Pelepasan ikatan emosional ini disebabkan perubahan dalam perkembangan intellek dimana remaja mengalami suatu peningkatan taraf daya berpikir.
1.    Sebagaimana dikemukan oleh seorang ahli psikologi terkenal yang mengkhususkan diri dalam penelitian aspek intellek : J. Piaget, maka remaja mencapai taraf perkembangan yang wajar telah mencapai taraf daya berpikir  dimana ia sudah dapat berpikir mengenai hal-hal yang tidak nyata, seperti misalnya : pandangan tentang pemikiran oranglain  dalam bentuk bahasa. Sedangkan bahasa adalah simbol atau kumpulan perkataan yang menandakan benda-benda dari seluruh isi bumi. Selama masa anak memang telah diajarkan semua simbol dan penggunaanya dalam hubungannya dengan sesuatu yang sudah ditentukan. Pada masa remaja mereka sudah memakai simbol tersebut dengan cara yang abstrak, sebagai pengganti situasi nyata.
2.    Pada masa ini proses berpikir para remaja merupakan suatu rangkaian pembentukan perumpamaan, pembentukan dugaan hipotesa dan menyimpulkan yang logis. Pikiran ditunjukan pada dirinya sendiri. Ia juga dapat mengarahkan pikirannya ke masa depan dan semua pengertian yang abstrak.   
3.    Bertambahnya kemampuan intellek memungkinkan para remaja menilai pengalaman dengan yang baru. Cara meninjau yang baru ditunjukan tidak hanya pada lingkungan sekitarnya, melainkan pada dirinya sendiri dan orangtuanya.
Keyakinan penuh terhadap pandangan keluarga digoyahkan oleh keadaan dan situasi diluar keluarga yang jauh berbeda. Perbuatan tingkah laku orang-orang  di luar lingkungan keluarga yang jauh berbeda dengan anggota keluarga menyebabkan pemikiran-pemikiran yang meragukan kuatnya pandangan keluarga. Para remaja kemudian mengambil sudut pandang yang lain. Mulailah timbul pertentangan antara orangtua sebagai pembentuk “ Ideologi” keluarga dan remaj sebagai pendobraknya dengan akibat terjadinya konflik keluarga. Rangkaian peristiwa terjadinya konflik ini adalah sebagai berikut : Meningkatkan kematangan berpikir mengenai pandangan dan tata cara keluarga sampai pada titik kesimpulan bahwa idiologi keluarga tidak bisa dipertahankan menurut remaja. Kesimpulan ini disertai kesimpulan kecewa terhadap orang tua yang telah membentuk pandangan tersebut. Akhirnya tercetus keinginan pada pihak remaja untuk memperbincangkan pandangan orangtua berdasarkan pandangannya.
Dalam pembahasan terhadap pandangan keluarga inilah timbul konflik dalam keluarga:
1.    Kurangnya pengertian dari pihak orangtua yang kurang mau diajak mengikuti liku-liku perkembangan pikiran remaja.
2.    Sesungguhnya dengan timbulnya keraguan mengenai pandangan keluarga, maka perasaan aman dan terlindung dalam lingkungan keluarga mulai terancam.
3.    Suatu hal sampingan dari perkembangannya yakni egosentrisme dalam proses berfikir, menyebabkan perdepatan dan pembahasan tidak selalu berhasil, bahkan gagal.
4.    Tidak dapat menetapkan diri dipihak orang lain dan tidak menghormati adanya pendapat orang lain yang berbeda menyebabkan pendapat orang lain berbeda menyebabkan cepat beralihnya suatu tinjauan bersama, menjadi peretentangan dan perselisihan antara orangtua dan remaja.
Alhasil, remaja akan sampai pada kesimpulan bahwa dirinya tidak dimengerti oleh anggota keluarga lainnya. Ia akanmenutup dirinya bagi lingkungan keluarga.  Perasaaan kecewa pada remaja mengakibatkan hubungan antara orangtua remaja semakin berkurang atau semakin jarang. Timbul kecurigaan baik orangtua atau remaja sendiri. Kecurigaaan ini menjadi asal mula hilangnya kepercayaan baikdipihak orangtua, tetapi terlebih lagi dimata remaja. Akhirnya para remaja akan membentuk “ ideologi” mereka sendiri dan terbentuklah jurang pemisah antara orang tuua dan remaja.



C.  Usaha Mengatasi Konflik Remaja dengan Orangtua
Dalam menghadapi remaja, ada beberapa hal yang harus selalu diingat, yaitu bahwa jiwa remaja yang penuh kejolak (strum und drang) dan bahwa lingkungan sosial remaja ditandai dengan perubahan sosial yang cepat.
Mengingat setiap persoalan harus dihadapi dan diatasi, demikian pula masalah “ generation gap” maka beberapa hal perlu diperhatikan[5] :
1.    Usaha bersama, baik dari pihak orangtua maupun remaja, harus didasarkan pada itikad baik.
2.    Para remaja, disamping harus berusaha mengartikan ideologi keluarga, harus pula mengurangi ketaatan ideologinya terhadap keluarga. Dengan demikian sikap mutlak para remaj dalam pembentukan ideologi remaja agak dinetralisasikan.  Dengan mengendornya kedua ideologi ini maka kedua pola yang tadinya bertentangan , dapat dihindari.
3.    Mereka harus belajar mengakui bhwa kesanggupan berpikirnya belum mencapai obyektifitas.
Para remaja yang mengalami jalan buntu, harus mengindarkan diri dari tindakan –tindakan nekad: lari dari rumah atau dari lingkungan keluarga, lari dari masalah dengan emasuki dunia obat-obatan bius obat bius malah justru akan membahayakan bagi kesehatan.
1.    Para orang tua harus menunjukan sikap dewasa mereka dengan toleransi yang cukup terhadap perubahan-perubahan yang dialami remaja.
2.    Orang tua harus menunjukan sikap penuh kasih dan pengertian dalam mengatasi masalah remaja.
3.    Orangtua perlu menunjukan kesabaran dalam menghadapi perubahan tingkahlaku remaja yang sulit diduga sifat, sikap dan jalan pikirannya.
4.    Sebaliknya orangtua tidak berputus asa dalam membimbing, putra-putri remaja. Tetap memberi pandangan dan pendapat denga cara yang tidak langsung maupun langsung dalam bahasa dan “kamus” remaja. Dengan usaha darikedua belah pihak, baik remaja maupun orangtua, masalah konflik dan kerenggangan antar anggota keluarga kiranya dapat diatasi.
Dalam perkembangan seorang anak dalam memasuki usia puber, tentu orang tua merasakan suatu hubungan dengan anak terasa renggang. Saran bagi orang tua selagi anak anda masih di usia dini[6],
1.    Nikmatilah waktu anda bersama dengannya
karena anda tidak bisa memutar kembali waktu ke masa-masa yang anda inginkan. Dengan kedekatan yang anda bina dengan anak, tentunya anak juga akan merasa dekat dengan anda dan hal ini dapat berlanjut hingga saat dia dewasa nantinya. Kebiasaan-kebiasaan tertentu yang dirayakan bersama keluarga dapat menjadi salah satu pengikat yang dapat mendekatkan anda dengan anak. Beberapa trik buat orang tua untuk lebih dekat kepada anak remaja berikut ini yang diberikan oleh rumah remaja.
2.    Sempatkan diri anda untuk makan keluarga
Jika saat ini anda sebagai orang tua selalu sibuk dengan segala rutinitas dan pekerjaan, maka sebaiknya mulailah luangkan waktu dan buat aturan keluarga untuk setidaknya berkumpul di saat makan sekali sehari. Di saat usia anak beranjak remaja terkadang mereka juga sering melewatkan makan di rumah, dan mulai membuat rencana di luar bersama dengan teman-temannya. Ini memang tidak ada salahnya karena bersosialisasi juga penting untuk anak. Namun anda dapat mendekatkan diri dengan anak remaja anda jika ada kalanya anda memiliki saat-saat untuk berkumpul bersama. Ini bisa dilakukan di saat pagi hari saat sarapan atau pun makan malam. Di saat ini, anda memiliki kesempatan untuk mendengarkan anak anda menceritakan kegiatannya di sekolah, aktivitasnya, mau pun mengenal lingkungan teman-temannya.
3.    Luangkan waktu khusus untuk anak
Waktu khusus untuk anak di saat menginjak usia remaja, bisa berarti waktu shopping bagi ibu dan anak, atau pun waktu keluarga dimana anda sekeluarga pergi keluar bersama-sama walaupun hanya untuk sekedar membeli makan, menonton film, jalan di mall, atau pun pergi liburan ke tempat-tempat rekreasi. Anak remaja terkadang cenderung berada di dunianya sendiri dan terkadang tidak banyak bicara dengan orang tua nya. Kegiatan yang anda lakukan bersama-sama dapat menjadi salah satu cara untuk mendekatkan diri lagi pada anak anda.
4.    Kenali juga teman-temannya
Sebagai orang tua, anda dapat mengajak teman dari anak anda untuk mampir ke rumah. Ijinkan anak untuk mengundang teman-temannya untuk berkumpul atau pun mengadakan acara bersama di rumah anda misalnya acara malam tahun baru yang bisa diadakan di halaman rumah. Kegiatan ini dapat membuat anda mengenali juga teman-temannya, berbaur dengan mereka dan meningkatkan kualitas hubungan anda dengan anak.
5.    Bermain bersama
Melakukan suatu kegiatan yang menyenangkan bersama-sama juga dapat menjadi salah satu alternatif untuk dekat dengan anak. Bermain bersama mau pun berolah raga bersama bisa anda lakukan di saat senggang. Banyak kegiatan olah raga yang bisa anda lakukan bersama anak, seperti misalnya berenang, futsal, badminton, jalan pagi, atau pun lari pagi.
6.    Beri mereka ruang privasi
Disaat usia remaja, anak membutuhkan ruang privasi untuk mereka sendiri. Sebagai orang tua, terkadang kita memiliki kebiasaan terus-menerus melakukan omelan pada anak, atau pun ingin tahu semua detail tentang si anak. Ini menjadi salah satu alasan kenapa anak menjauh dari orang tua. Oleh sebab itu, ada baiknya anda memberikan ruang privasi untuk mereka tetapi selalu ada di saat mereka membutuhkan anda.
Tips bagi orang tua dalam menghadapi anak remaja Dengan langkah-langkah sederhana, tersebut diatas pasti akan mengurangi jarak antara anda dan anak anda. Setidaknya anda harus tetap menjalin komunikasi dengan si anak; komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang dilakukan secara dua arah. Agar anak dapat leluasa untuk berbicara dengan anda, kenali juga kapan saatnya anda harus bertindak tegas dan kapan saatnya anda menjadi pendengar yang baik. Sebagai orang tua, anda juga harus bersikap tegas pada anak; ini juga bertujuan agar anak berada di jalan yang benar dan tidak terpengaruh oleh lingkungan yang negatif. Dengan mendekatkan diri pada anak, anda juga secara tidak langsung mengawasi lingkungan pergaulan dari anak
BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
1.    Kerenggangan hubungan remaja dengan orangtua adalah  kesinambungan interaksi antara anak dan orangtua yang terbatas dengan jarak semakin jauh atau tidak berfungsinya hubungan yang harmonis atau tidak terjalinya dengan baik antara keduannya dalam proses kehidupan manusia.
2.    Latar belakang dari perubahan sifat hubungan antara orangtua dan putra-putri remaja ini menunjukan bahwa kerenggangan tidak merupakan suatu bentuk kenakalan atau penyimpangan tingkahlaku remaja melainkan suatu akibat perkembangan yang dialami pada saat remaja.
3.    Menurut seorang ahli bernama J.Barnett : para remaja terpaksa melepaskan diridari ikatan emosional dengan orangtuanya.
4.    Setiap persoalan harus dihadapi dan diatasi, demikian pula masalah “ generation gap” maka beberapa hal perlu diperhatikan yaitu dengan usaha dari kedua belah pihak, baik remaja maupun orangtua

B.  Saran
Dalam menyelesaikan berbagai masalah orang tua dengan remaja hendaknya kita perlu memahami duni remaja, dan  perlu menyelesaikannya secara  bijak. Sehingga apa yang kita hadapi dalam memecahkan berbagai masalah akan terselesaikan dengan baik, untuk itu diantara kedua belah pihak harus ada usaha untuk menyelesaikan secara bersama-sama.








DAFTAR PUSTAKA

Gunarsa, Singgih, Psikologi Remaja.  Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2009.
Sarwono. Sarlito,  Psikologi Remaja. Jakarta: Raja Wali Pers, 2012.
Deborah Carroll, Stella Reid, Karen Moline, Nanny 911. Bandung: Mizan Media Utama, 2008.



      [1] Deborah Carroll, Stella Reid, Karen Moline, Nanny 911 {Bandung: Mizan Media Utama, 2008} hlm. 23.

      [2] Gunarsa, Singgih, Psikologi remaja  { jakarta:  BPK Gunung mulia,2009}, Cetakan, hlm 119.
      [3] Sarwono. Sarlito Psikologi Remaja, { Jakarta: Raja Wali Pers, 2012} Cetakan, 15, hlm 278
      [4] Gunarsa, Singgih, Psikologi remaja, ibid, hlm 121
      [5] Gunarsa, Singgih, Psikologi remaja, ibid, hlm 124, 125





Tidak ada komentar:

Posting Komentar