MAKALAH PSIKOLOGI ANAK DAN REMAJA
“KERENGGANGAN
HUBUNGAN ANTARA REMAJA DENGAN ORANGTUA”
Makalah
Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi Anak Dan
Remaja
Dosen
Pengampu : Drs.Muchalim
![]() |
.
Disusun Oleh :
KAROMAH
SEMESTER : TARBIYAH/ 6 (Enam)B
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM SUFYAN TSAURI (STAIS) MAJENANG
Jl.KH.
Sufyan Tsauri Po Box I8 Majenang Tlp. (0280) 623562
Cilacap
2013 / 2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah
Subhanahu wata΄ala, karena berkat rahmat-Nya penulis bisa
menyelesaikan makalah Psikologi Anak dan Remaja “Kerenggangan Hubungan Orang
Tua Dan Remaja” makalah ini diajukan
guna memenuhi tugas mata kuliah psikologi anak dan remaja yang bimbing oleh Drs. Muchalim
Dengan disusunnya makalah ini diharapkan
mahasiswa dapat memahami point-point dari isi pembahasan tentang kerenggangan
hubungan anak dan remaja, serta dapat mengatasi permasalahan yang ada. Penulis
juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini sehingga dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Kami
juga menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah
ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan informasi bagi yang membacanya
dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan
peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua. Amin..!!
Majenang, 5 Mei 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman judul................................................................................................................ i
Kata pengantar........................................................................................................... .. ii
Daftar isi.................................................................................................................... . iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang.................................................................................................. 1
B.
Rumusan Masalah............................................................................................. 2
C.
Tujuan Pembahasan........................................................................................ 2
D.
Manfaat Pembahasan........................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kerenggangan Hubungan Antara Remaja Dan Orang
Tua.......... .. 3
B.
Latar Belakang Timbulnya Kerenggangan Antara Orang Tua
dan Remaja...... 3
C.
Usaha Mengatasi Konflik Remaja dan Orang Tua........................................... 6
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................................... .. 9
B. Saran............................................................................................................... .. 9
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 10
PBAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah
Hubungan orangtua dan anak adalah
hubungan antar manusia yang paling dalam dan
mendasar, sebab orangtua merupakan sumber atau asal keberadaan sang
anak. Bahkan, terjadi suatu ikatan yang begitu dalam antara keduanya dan tidak
tergantikan oleh siapapun. Hubungan yang harmonis ini harus tetap dipelihara,
sebab rusaknya hubungan orangtua dan anak dapat mengakibatkan gangguan
batin yang membuat hidup tidak bisa tenteram, termasuk anak di usia remaja.
Dalam hal ini, komunikasi yang efektif mendefinisikan bagaimana peranan
orangtua dalam membina komunikasi dengan anak remaja mereka. Hal ini
sangat penting karena salah satu cara mempersiapkan remaja menjadi pribadi yang
utuh adalah mengajari mereka bagaimana caranya berkomunikasi[1].
Sebelum masa remaja, anak-anak tergantung secara mutlak pada orangtua. Anak
diasuh dan dirawat oleh orangtua.Hubungan anak dan orang tua begitu sangat
erat, sehingga orangtua pada umumnya mengetahui suasana hati dan jalan pikir
anaknya. Pada masa remaja terlihat merenggangnya hubungan antara remaja dan
orang tua dengan remaja putra putri. Kerenggangan ini semakin lama semakin
terasa oleh kedua belah pihak. Hubungan
dalam bentuk percakapan makin jarang akhirnya hubungan tersebut sedemikian
renggangnya, sehingga kesan yang diperoleh dari hubungan mereka berupa usaha
untuk melepaskan diri ingin berdiri sendiri. Sejalan dengan bertambahnya
pertentangan antara terlihat pula keinginan yang besar untuk berkumpul dengan
teman-teman sebaya. Disatu pihak para remaja merasa tidak dimengerti oleh orang
tua. Sebaliknya orangtua tidak mengetahui isi hati para remaja. Kesimpangsiuran
dalam hal pandangan dan pendapat, menyebabkan kehidupan yang berbeda, untuk itu
makalah ini akan memaparkan tentang pembahasan kerenggangan antara remaja dan
orangtua[2].
B.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam
makalah ini adalah :
1.
Apa yang diimaksud dengan kerenggangan remaja dan
orangtua
2.
Faktor yang melatarbelakangi kerenggangan remaja dan
orangtua
3.
Usaha mengatasi konflik remaja dan orangtua.
C.
Tujuan Pembahasan
Berdasarkan
rumusan makalah diatas, mahasiswa diharapkan mampu untuk mengetahui dan
menjelaskan lebih mendalam tentang:
1.
Kerenggangan remaja dan orangtua
2.
Latarbelakangi kerenggangan remaja dan orangtua
3.
Usaha mengatasi konflik remaja dan orangtua.
D.
Manfaat Pembahasan
Dengan
adanya pembahasan kerenggangan remaja dan orangtua dalam
proses pembelajaran psikologi anak dan remaja mahasiswa mampu:
1. Membedakan mana yang baik dan yang tidak baik
sehingga dapat mencegah terjadinya konflik remaja yang kepanjangan.
2. Menjalin hubungan yang harmonis antara remaja
dan orangtua dalam kehidupan sehari-hari.
3. Menanggulangi permasalahan yang dihadapi
remaja pada kehidupan sehari-hari
BAB II
PEMBAHASAN
Bukan saja di kota metropolitan orangtua seringkali
mengeluh mengenai anak remaja mereka, melainkan orang tua dibelahan bumi
lainnya tidak terhindar dari gangguan mengenai anak remaja. Sebaliknya para
remaja tidak jarang mengecam pandangan dan pendapat orang tua yang dihadapinya
sebagai “ tidak sesuai dengan zaman” .Seringkali orang tua mengatakan pada
zaman mereka masa muda, tidak ada keluhan seperti mereka. Akhir-akhir ini
remaja disoroti dari berbagai sudut pandang.
A. Pengertian Kerenggangan Hubungan Antara Remaja dan Orang Tua
Dalam kanus bahasa indonesia( kbbi) renggang
adalah tidak rapat, ada celah, menjauh, jadi hubungan kerenggangan hubungan
remaja dengan orangtua adalah kesinambungan interaksi antara anak dan orangtua
yang terbatas dengan jarak semakin jauh atau tidak berfungsinya hubungan yang
harmonis atau tidak terjalinya dengan baik antara keduannya dalam proses
kehidupan manusia.Dalam menjalin hubungan
antara remaja dengan orang tua ini sangat dibutuhkan anak, jika
terganggu dan dihadapkan anak dengan masalah yang harus dihadapkan dengan
kepentingan orang tua , menyebabkan anak remaja yang bersamngkutan merasa
seakan-akan tidak ada jalan keluar dan berakibat sangat fatal seperti putus
asa, depresif dan akhirnya mengambil keputusan untuk bunuh diri sajah[3]
B. Latar Belakang Timbulnya Kerenggangan Antara
Orangtua dan Remaja
Latar belakang dari perubahan sifat hubungan antara
orangtua dan putra-putri remaja ini menunjukan bahwa kerenggangan tidak
merupakan suatu bentuk kenakalan atau penyimpangan tingkahlaku remaja melainkan
suatu akibat perkembangan yang dialami pada saat remaja. Dengan demikian setiap
remaja selalu akan mengalami saat kerenggangan dalam hubungan-hubungan didalam
keluarga. Akan tetapi derajat kerenggangan dan akibat-akibatnya tidak sama,
tergantung dari banyak hal antara lain suasana keluarga[4].
Latar belakang timbulnya konflik keluarga
Mengingat eratnya hubungan antara perkembangan intellek
seseorang dengan daya berpikirannya dapat dikemukan bahwa dengan
bertambahnya daya pikir kritis
menyebabkan perubahan dalam penerimaan remaja terhadap ideologi keluarga.
Menurut seorang ahli bernama J.Barnett : para remaja terpaksa melepaskan
diridari ikatan emosional dengan orangtuanya. Pelepasan ikatan emosional ini
disebabkan perubahan dalam perkembangan intellek dimana remaja mengalami suatu
peningkatan taraf daya berpikir.
1. Sebagaimana dikemukan oleh seorang ahli
psikologi terkenal yang mengkhususkan diri dalam penelitian aspek intellek : J.
Piaget, maka remaja mencapai taraf perkembangan yang wajar telah mencapai taraf
daya berpikir dimana ia sudah dapat
berpikir mengenai hal-hal yang tidak nyata, seperti misalnya : pandangan
tentang pemikiran oranglain dalam bentuk
bahasa. Sedangkan bahasa adalah simbol atau kumpulan perkataan yang menandakan
benda-benda dari seluruh isi bumi. Selama masa anak memang telah diajarkan
semua simbol dan penggunaanya dalam hubungannya dengan sesuatu yang sudah
ditentukan. Pada masa remaja mereka sudah memakai simbol tersebut dengan cara
yang abstrak, sebagai pengganti situasi nyata.
2. Pada masa ini proses berpikir para remaja
merupakan suatu rangkaian pembentukan perumpamaan, pembentukan dugaan hipotesa
dan menyimpulkan yang logis. Pikiran ditunjukan pada dirinya sendiri. Ia juga
dapat mengarahkan pikirannya ke masa depan dan semua pengertian yang abstrak.
3. Bertambahnya kemampuan intellek memungkinkan
para remaja menilai pengalaman dengan yang baru. Cara meninjau yang baru
ditunjukan tidak hanya pada lingkungan sekitarnya, melainkan pada dirinya
sendiri dan orangtuanya.
Keyakinan penuh terhadap pandangan keluarga digoyahkan
oleh keadaan dan situasi diluar keluarga yang jauh berbeda. Perbuatan tingkah
laku orang-orang di luar lingkungan
keluarga yang jauh berbeda dengan anggota keluarga menyebabkan
pemikiran-pemikiran yang meragukan kuatnya pandangan keluarga. Para remaja
kemudian mengambil sudut pandang yang lain. Mulailah timbul pertentangan antara
orangtua sebagai pembentuk “ Ideologi” keluarga dan remaj sebagai pendobraknya
dengan akibat terjadinya konflik keluarga. Rangkaian peristiwa terjadinya
konflik ini adalah sebagai berikut : Meningkatkan kematangan berpikir mengenai
pandangan dan tata cara keluarga sampai pada titik kesimpulan bahwa idiologi
keluarga tidak bisa dipertahankan menurut remaja. Kesimpulan ini disertai
kesimpulan kecewa terhadap orang tua yang telah membentuk pandangan tersebut.
Akhirnya tercetus keinginan pada pihak remaja untuk memperbincangkan pandangan
orangtua berdasarkan pandangannya.
Dalam pembahasan terhadap pandangan keluarga inilah
timbul konflik dalam keluarga:
1. Kurangnya pengertian dari pihak orangtua yang
kurang mau diajak mengikuti liku-liku perkembangan pikiran remaja.
2. Sesungguhnya dengan timbulnya keraguan
mengenai pandangan keluarga, maka perasaan aman dan terlindung dalam lingkungan
keluarga mulai terancam.
3. Suatu hal sampingan dari perkembangannya yakni
egosentrisme dalam proses berfikir, menyebabkan perdepatan dan pembahasan tidak
selalu berhasil, bahkan gagal.
4. Tidak dapat menetapkan diri dipihak orang lain
dan tidak menghormati adanya pendapat orang lain yang berbeda menyebabkan
pendapat orang lain berbeda menyebabkan cepat beralihnya suatu tinjauan
bersama, menjadi peretentangan dan perselisihan antara orangtua dan remaja.
Alhasil, remaja akan sampai pada kesimpulan bahwa dirinya tidak dimengerti
oleh anggota keluarga lainnya. Ia akanmenutup dirinya bagi lingkungan
keluarga. Perasaaan kecewa pada remaja
mengakibatkan hubungan antara orangtua remaja semakin berkurang atau semakin
jarang. Timbul kecurigaan baik orangtua atau remaja sendiri. Kecurigaaan ini
menjadi asal mula hilangnya kepercayaan baikdipihak orangtua, tetapi terlebih
lagi dimata remaja. Akhirnya para remaja akan membentuk “ ideologi” mereka
sendiri dan terbentuklah jurang pemisah antara orang tuua dan remaja.
C. Usaha Mengatasi Konflik Remaja dengan Orangtua
Dalam menghadapi remaja, ada beberapa hal yang harus
selalu diingat, yaitu bahwa jiwa remaja yang penuh kejolak (strum und drang)
dan bahwa lingkungan sosial remaja ditandai dengan perubahan sosial yang cepat.
Mengingat setiap persoalan harus dihadapi dan diatasi,
demikian pula masalah “ generation gap” maka beberapa hal perlu
diperhatikan[5]
:
1. Usaha bersama, baik dari pihak orangtua maupun
remaja, harus didasarkan pada itikad baik.
2. Para remaja, disamping harus berusaha
mengartikan ideologi keluarga, harus pula mengurangi ketaatan ideologinya
terhadap keluarga. Dengan demikian sikap mutlak para remaj dalam pembentukan
ideologi remaja agak dinetralisasikan.
Dengan mengendornya kedua ideologi ini maka kedua pola yang tadinya
bertentangan , dapat dihindari.
3. Mereka harus belajar mengakui bhwa kesanggupan
berpikirnya belum mencapai obyektifitas.
Para remaja yang mengalami jalan buntu, harus
mengindarkan diri dari tindakan –tindakan nekad: lari dari rumah atau dari lingkungan
keluarga, lari dari masalah dengan emasuki dunia obat-obatan bius obat bius
malah justru akan membahayakan bagi kesehatan.
1. Para orang tua harus menunjukan sikap dewasa
mereka dengan toleransi yang cukup terhadap perubahan-perubahan yang dialami remaja.
2. Orang tua harus menunjukan sikap penuh kasih
dan pengertian dalam mengatasi masalah remaja.
3. Orangtua perlu menunjukan kesabaran dalam
menghadapi perubahan tingkahlaku remaja yang sulit diduga sifat, sikap dan
jalan pikirannya.
4. Sebaliknya orangtua tidak berputus asa dalam
membimbing, putra-putri remaja. Tetap memberi pandangan dan pendapat denga cara
yang tidak langsung maupun langsung dalam bahasa dan “kamus” remaja. Dengan
usaha darikedua belah pihak, baik remaja maupun orangtua, masalah konflik dan
kerenggangan antar anggota keluarga kiranya dapat diatasi.
Dalam perkembangan seorang anak dalam memasuki
usia puber, tentu orang tua merasakan suatu hubungan dengan anak terasa
renggang. Saran bagi orang tua
selagi anak anda masih di usia dini[6],
1. Nikmatilah waktu anda bersama dengannya
karena anda tidak bisa
memutar kembali waktu ke masa-masa yang anda inginkan. Dengan
kedekatan yang anda bina dengan anak, tentunya anak juga akan merasa dekat
dengan anda dan hal ini dapat berlanjut hingga saat dia dewasa nantinya.
Kebiasaan-kebiasaan tertentu yang dirayakan bersama keluarga dapat menjadi
salah satu pengikat yang dapat mendekatkan anda dengan anak. Beberapa trik buat
orang tua untuk lebih dekat kepada anak remaja berikut ini yang diberikan oleh
rumah remaja.
2.
Sempatkan diri anda untuk
makan keluarga
Jika saat ini anda sebagai
orang tua selalu sibuk dengan segala rutinitas dan pekerjaan, maka sebaiknya
mulailah luangkan waktu dan buat aturan keluarga untuk setidaknya berkumpul di
saat makan sekali sehari. Di saat usia anak beranjak remaja terkadang
mereka juga sering melewatkan makan di rumah, dan mulai membuat rencana di luar
bersama dengan teman-temannya. Ini memang tidak ada salahnya karena
bersosialisasi juga penting untuk anak. Namun anda dapat mendekatkan diri
dengan anak remaja anda jika ada kalanya anda memiliki saat-saat untuk
berkumpul bersama. Ini bisa dilakukan di saat pagi hari saat sarapan atau pun
makan malam. Di saat ini, anda memiliki kesempatan untuk mendengarkan anak anda
menceritakan kegiatannya di sekolah, aktivitasnya, mau pun mengenal lingkungan
teman-temannya.
3.
Luangkan waktu khusus
untuk anak
Waktu khusus untuk anak di
saat menginjak usia remaja, bisa berarti waktu shopping bagi ibu dan anak, atau
pun waktu keluarga dimana anda sekeluarga pergi keluar bersama-sama walaupun
hanya untuk sekedar membeli makan, menonton film, jalan di mall, atau pun pergi
liburan ke tempat-tempat rekreasi. Anak remaja terkadang cenderung berada di
dunianya sendiri dan terkadang tidak banyak bicara dengan orang tua nya.
Kegiatan yang anda lakukan bersama-sama dapat menjadi salah satu cara untuk
mendekatkan diri lagi pada anak anda.
4. Kenali juga
teman-temannya
Sebagai orang tua, anda dapat mengajak teman
dari anak anda untuk mampir ke rumah. Ijinkan anak untuk mengundang
teman-temannya untuk berkumpul atau pun mengadakan acara bersama di rumah anda
misalnya acara malam tahun baru yang bisa diadakan di halaman rumah. Kegiatan
ini dapat membuat anda mengenali juga teman-temannya, berbaur dengan mereka dan
meningkatkan kualitas hubungan anda dengan anak.
5. Bermain bersama
Melakukan suatu kegiatan yang menyenangkan
bersama-sama juga dapat menjadi salah satu alternatif untuk dekat dengan anak.
Bermain bersama mau pun berolah raga bersama bisa anda lakukan di saat senggang.
Banyak kegiatan olah raga yang bisa anda lakukan bersama anak, seperti misalnya
berenang, futsal, badminton, jalan pagi, atau pun lari pagi.
6. Beri mereka
ruang privasi
Disaat usia remaja, anak membutuhkan ruang
privasi untuk mereka sendiri. Sebagai orang tua, terkadang kita memiliki
kebiasaan terus-menerus melakukan omelan pada anak, atau pun ingin tahu semua
detail tentang si anak. Ini menjadi salah satu alasan kenapa anak menjauh dari
orang tua. Oleh sebab itu, ada baiknya anda memberikan ruang privasi untuk
mereka tetapi selalu ada di saat mereka membutuhkan anda.
Tips bagi orang tua dalam menghadapi anak
remaja Dengan langkah-langkah sederhana, tersebut diatas pasti akan
mengurangi jarak antara anda dan anak anda. Setidaknya anda harus tetap
menjalin komunikasi dengan si anak; komunikasi yang efektif adalah komunikasi
yang dilakukan secara dua arah. Agar anak dapat leluasa untuk berbicara dengan
anda, kenali juga kapan saatnya anda harus bertindak tegas dan kapan saatnya
anda menjadi pendengar yang baik. Sebagai orang tua, anda juga harus bersikap
tegas pada anak; ini juga bertujuan agar anak berada di jalan yang benar dan
tidak terpengaruh oleh lingkungan yang negatif. Dengan mendekatkan diri pada
anak, anda juga secara tidak langsung mengawasi lingkungan pergaulan dari anak
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Kerenggangan hubungan remaja dengan orangtua
adalah kesinambungan interaksi antara
anak dan orangtua yang terbatas dengan jarak semakin jauh atau tidak
berfungsinya hubungan yang harmonis atau tidak terjalinya dengan baik antara
keduannya dalam proses kehidupan manusia.
2. Latar belakang dari perubahan sifat hubungan
antara orangtua dan putra-putri remaja ini menunjukan bahwa kerenggangan tidak
merupakan suatu bentuk kenakalan atau penyimpangan tingkahlaku remaja melainkan
suatu akibat perkembangan yang dialami pada saat remaja.
3. Menurut seorang ahli bernama J.Barnett : para
remaja terpaksa melepaskan diridari ikatan emosional dengan orangtuanya.
4. Setiap persoalan harus dihadapi dan diatasi,
demikian pula masalah “ generation gap” maka beberapa hal perlu
diperhatikan yaitu dengan usaha dari kedua belah pihak, baik remaja maupun
orangtua
B. Saran
Dalam menyelesaikan berbagai masalah orang tua dengan
remaja hendaknya kita perlu memahami duni remaja, dan perlu menyelesaikannya secara bijak. Sehingga apa yang kita hadapi dalam
memecahkan berbagai masalah akan terselesaikan dengan baik, untuk itu diantara
kedua belah pihak harus ada usaha untuk menyelesaikan secara bersama-sama.
DAFTAR PUSTAKA
Gunarsa, Singgih, Psikologi Remaja. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2009.
Sarwono. Sarlito, Psikologi
Remaja. Jakarta: Raja Wali Pers, 2012.
Deborah Carroll, Stella Reid, Karen Moline, Nanny 911. Bandung:
Mizan Media Utama, 2008.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar